di situs Mantap168 Anak muda zaman sekarang tuh sering banget dicap cuma bisa rebahan, scroll media sosial, terus ngopi cantik sambil update story. Padahal kalau dilihat lebih dekat, gaya hidup generasi sekarang justru unik banget. Kita bisa santai tapi tetap produktif, bisa have fun tanpa harus kehilangan arah. Hidup tuh bukan soal siapa yang paling sibuk, tapi siapa yang paling pinter nikmatin proses tanpa overthinking tiap lima menit.
Realitanya, banyak banget anak muda yang lagi ngejar mimpi dengan cara mereka sendiri. Ada yang bangun personal branding dari konten iseng, ada yang mulai jualan kecil-kecilan dari kamar, ada juga yang lagi serius ngembangin skill biar nanti gak kaget pas masuk dunia kerja. Semua dijalanin dengan vibe santuy tapi tetap ada tujuan. Ini bukan generasi yang males, ini generasi yang sadar kalau hidup gak harus selalu tegang.
Media sosial juga punya peran gede dalam ngebentuk pola pikir. Dari situ kita bisa belajar banyak hal, mulai dari skill editing, public speaking, sampai bisnis online. Banyak yang awalnya cuma coba-coba upload video, eh malah jadi ladang cuan. Tapi di balik itu semua, ada proses panjang yang jarang kelihatan. Belajar algoritma, ngerti audiens, konsisten upload walau view sepi, itu bukan hal gampang. Jadi kalau ada yang bilang anak muda sekarang cuma modal gaya, kayaknya perlu lihat ulang fakta di lapangan.
Selain soal karier, gaya hidup sehat juga makin dilirik. Sekarang nongkrong gak melulu soal junk food dan begadang tiap malam. Banyak yang mulai rutin olahraga, entah itu jogging sore, workout di rumah, atau sekadar stretching biar badan gak kaku karena kelamaan duduk. Kesadaran buat jaga kesehatan mental juga makin tinggi. Kalau lagi capek, ya istirahat. Kalau lagi overwhelmed, ya cerita. Gak semua harus dipendem sendiri.
Soal pertemanan juga beda dari generasi sebelumnya. Circle sekarang lebih kecil tapi solid. Anak muda cenderung milih quality over quantity. Gak masalah temen dikit, yang penting suportif dan gak toxic. Nongkrong pun gak harus mahal, yang penting bisa ketawa bareng dan ngerasa diterima apa adanya. Kadang obrolan random tengah malam justru jadi momen paling berharga.
Di sisi lain, tekanan juga nyata. Standar sukses di media sosial sering bikin insecure. Lihat orang seumuran udah punya pencapaian ini itu kadang bikin mikir, “Gue kapan ya?” Tapi makin ke sini, makin banyak yang sadar kalau hidup bukan lomba lari cepat. Setiap orang punya timeline masing-masing. Ada yang bersinar di usia muda, ada yang nemu jalannya pas udah lebih matang. Semua valid, semua punya cerita.
Anak muda sekarang juga lebih vokal soal opini. Mereka berani ngomong tentang isu sosial, lingkungan, sampai pendidikan. Bukan sekadar ikut tren, tapi memang peduli. Diskusi bisa terjadi di mana aja, dari kolom komentar sampai space virtual. Walau kadang panas, setidaknya ada keberanian buat terlibat dan gak cuma jadi penonton.
Gaya berpakaian juga jadi bentuk ekspresi diri. Mau pakai outfit simpel atau nyentrik, semua sah-sah aja. Fashion bukan lagi soal ikut aturan kaku, tapi soal nyaman dan percaya diri. Mix and match jadi cara buat nunjukin karakter. Bahkan thrift shop dan outfit preloved makin populer karena dianggap lebih ramah kantong dan tetap stylish.
Soal cinta-cintaan, generasi sekarang juga punya cara unik. Mereka lebih terbuka ngomongin red flag, green flag, sampai batasan dalam hubungan. Gak sedikit yang milih fokus ke diri sendiri dulu sebelum serius sama orang lain. Konsep self love bukan cuma caption manis, tapi benar-benar dipraktikkan. Karena sadar, hubungan yang sehat itu dimulai dari diri yang juga sehat.
Produktivitas pun punya definisi baru. Gak harus selalu bangun jam lima pagi dan kerja tanpa henti. Kadang produktif itu sesimpel nyelesaiin satu tugas yang sempat ketunda atau berani mulai hal kecil yang udah lama direncanain. Anak muda belajar kalau konsistensi lebih penting daripada ambisi yang meledak di awal tapi redup di tengah jalan.